Senin, 14 Oktober 2013



Sumber Buku  : Konseling Kristen Yang Efektif ; Dr. Gary R Collins


LATAR BELAKANG        
           
      Dapat dipastikan bahwa tidak seorangpun di dunia ini yang bebas dari berbagai pergumulan hidup atau masalah karena hal itu memang merupakan bagian dari dinamika kehidupan umat manusia. Namun. Jika disikapi dengan bijak dan tepat, berbagai pergumulan atau masalah itu sebenanrnya dapat membuat setipa orang terpacu untuk senantiasa dinamis, bergairah dan tertantang untuk mengatasinya sehingga ia dapat bertahan dan dapat menyongsong hari esok dengan lebih baik. Dengan adanya Problem hidup manusia yang semakin banyak dan kompleks, mereka memerlukan pertolongan dari orang lain untuk menyelesaikan problem itu, kemudian mengembangkan diri untuk hidup yang lebih baik setelah problem itu selesai dan akhirnya mereka dapat menikmati kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Namun problem ini dimulai ketika manusia jatuh kedalam dosa hingga sekarang.
            Untuk itulah STT IKSM menyediakan program studi dalam konsentrasi Pendidikan Agama Kristen (PAK)menyediakan materi Konseling Kristen yang memperlengkapi para mahasiswa/i untuk menjadi konselor yang profesioanal dan alkitabiah. Konselor Kristen menunjukkan Kasih Yesus, ketika ia memperhatikan dan menolong orang lain dalam kesulitannya. Orang tersebut menceritakan masalahnya kepada konselor di tempat aman, sambil mencurahkan perasaannya. Konselor mendengarkannya dengan baik, lalu menolongnya mencari solusi efektif untuk mengatasi masalahnya. Diharapkan orang tersebut kembali dengan lega. Namun gereja juga sangat berperan dalam konseling untuk memecahkan masalah-masalah serta kebutuhan jemaat maupun banyak orang yang membutuhkan. Saya akan membahas konseling dalam gereja akan tetapi konseling itu dapat dilakukan dimana saja baik di sekolah di kantor dan lain-lain.


TUGAS KONSELING DALAM GEREJA
             Istilah “konseling” dapat diartikan sebagai: perundingan, diskusi, nasehat, pendapat, masalah yang tangani untuk dicari penyelesaian yang tepat dan tuntas, tujuan-tujuan dan kebijaksanaan. Tugas konseling di gereja juga sama prinsipnya, yakni sbagai upaya perundingan, pemberian nasehat, pertimbangan dan kebijaksanaan yang membawa pembaharuan hidup — iman, pikiran, sikap dan tingkah laku. Konseling dapat dilakukan untuk membantu mereka yang sedang mengalami permasalahan hidup (kuratif). Ada masalah keluarga, masalah studi, masalah keuangan, pekerjaan dan masalah nilai budaya. Bisa pula konseling diberikan bagi mereka yang belum mendapat masalah berat (preventif). Misalnya, konseling untuk kaum muda sebelum memasuki pernikahan, atau konseling untuk keluarga-keluarga muda sebelum dibebani oleh berbagai masalah rumah tangga.
Kedudukan gereja
            Gereja mempunyai kedudukan yang begitu istimewa dan mulia di hadapan Tuhan kita Yesus Kristus. Dia menghendaki gereja hadir dan berkarya di dunia ini, yang harus berdasar pada pengakuan bahwa Yesus Kristus Mesias, Anak Allah (Matius 16:16,18). Kepada gereja yang berdiri sebagai karya Roh Kudus itu, Dia memberi mandat untuk “menjadikan semua bangsa muridNya”. Dalam rangka tugas itu, pemberitaan Injil harus dilaksanakan, peneguhan iman dan pengajaran harus diupayakan (Matius 28:18-20).
            Gereja adalah umat pilihan Allah oleh iman orang-orang percaya itu sendiri kepada Yesus Kristus. Yesus memanggil dan menjadikan setiap orang percaya sebagai “imam-imam” yang mampu berhubungan langsung dengan Allah dan melayani serta mempermuliakan Dia. Disamping itu, sebagai “imam-imam” Allah, semua orang percaya taerpanggil untuk saling melayani, membantu sesamanya, agar mengalami pembaharuan hidup (1 Petrus 2:9,10; Efesus 3:10). Kita semua harus memberi perhatian dan bantuan terhadap sesama kita, khususnya sebagai umat beriman, agar mampu tampil sebagai pemenang menghadapi setiap tantangan hidup yang semakin berat (Galatia 6:2, 10). Kita semua adalah “pengembara” di dalam dunia.  Sebab itu kita harus bertolong-tolongan,saling menopang, saling mengoreksi, saling menghibur dan memberi dorongan untuk maju dan mengakhiri perjalanan hidup ini. Hal ini dapat kita lakukan mengingat Roh Allah hadir di dalam kita (Efesus 1:13, 14; 2:23).

Tugas-tugas gereja 
            Tugas gereja banyak dan luas, sebagaimana Allah memberikan rupa-rupa karunia dan pekerjaan (1 Korintus 12:4-7). Allah sendiri memberikan karunia pekerja dan pekerjaan seperti: nabi, rasul, penginjil, guru dan gembala jemaat (Efesus 4: 11-13). Mereka bertugas memperlengkapi warga jemaat melalui ibadah, persekutuan dan kesaksian serta diakonia, agar mengenal dan memuliakan Tuhan. Setiap pekerjaan dalam gereja harus dikembangkan secara serasi, seimbang dan harmoni (Roma 12:6-8). Kita lihat pula pentingnya para tua-tua jemaat dan diaken serta para penatua untuk mendinamiskan hidup iman warga jemaat (1 Timotius 3:1-13); 1 Petrus 5:1-4). Artinya, setiap orang yang punya potensi melayani Tuhan dalam gereja harus difungsikan agar gereja menjadi dinamis. Pekerjaan kemajuan hidup beriman warga gereja tidak mungkin hanya dapat diwujudkan oleh satu atau beberapa orang pekerja (klerus).
            Pelayanan melalui konseling di dalam gereja perlu kita pikirkan dan kembangkan. Mengapa demikian? Pertama, karena warga gereja adalah individu dan kelompok yang hidup di dunia yang sudah tentu penuh dengan tantangan, tekanan, hambatan, penderitaan, kesakitan bahkan penganiayaan. Manusia dicipatakan Allah dengan dua kodrat (sifat), yaitu kodrat lahiriah (jasmani) dan rohani (spiritual). Dengan kondrat lahiriahnya semua manusia terbatas, lemah, tidak kebal terhadap penyakit bahkan terhadap kematian. Dengan kodrat illahinya, manusia mempunyai kerinduan yang dalam untuk berhubungan dengan Allah dalam setiap kesempatan dan situasi hudupnya. Artinya, solusi terhadao persoalan hidupnya tidak bisa di dapat hanya dari sudut lahiriaih. Manusia tidak bisa kenyang oleh karena roti dan kesuksesan materialnya; karena keindahan dunia, atau karena kuasa serta kekuatn yang didapat dari dunia ini (Matius 4:1-11). Gereja harus mengajak warganya untuk mencari jawaban-jawaban hidup dari petunjuk illahi, yaitu dari firman, kuasa dan kehadiran (bimbingan) Allah. Kedua, pentingnya tugas konseling dalam gereja ini juga diperlihatkan oleh beberepa perikop firman Tuhan. Pertama, 1 Petrus 5:1-4 mengemukakan bahwa penatua gereja adalah gembala, pengarah iman, pembimbing dan pendorong semangat orang-orang percaya. Mereka memberi pengarahan iman ditengah-tengah banyaknya kepalsuan pengajaran. Mereka memberikan bimbingan berkaitan dengan hidup rumah tangga, dan hidup kerohanian. Mereka dituntut memberikan dorongan berupa perkataan dan perbuatan yang membangun karena jemaat menghadap tekanan batiniah, bahkan tekanan yang nyata secara sosial, kultural dan politik.
             Sebagai gembala penatua harus memerankan tugasnya seperti disebutkan oleh Mazmur 23:1-6 yakni: mengenal, memelihara, memebrikan hiburan bagi warganya. Mereka juga meneladani Yesus Sang Gembala yang mengenal kebutuhan daoba-domba-Nya, bahkan rela memberikan diri dan kehidupan-Nya (Yohanes 10:10, 14-18). Kedua, Yakobus 5:14-16 menasehatkan agar penatua rajin mendoakan warganya yang sedang dilanda kesakitan. Tidak semua penyakit karena kuman. Banyak penyakit terjadi karena kelemahan emosi, kelelhan pikiran, bahkan karena kehampaan (kekosongan) rohani (spiritual). Nah, para penatua perlu membangun semangat mereka, melalui nasehat, dorongan, ajaran yang banar serta melalui doa, yang sungguh-sungguh. Doa merupakan permohonan kepada Allah agar Ia menyingkapkan apa sebenarnya yang terejadi dalam didi seseorang yang kita doakan. Lalu Allah sendiri memberikan jawabnya. Ketiga, Ibrani 10:24-25 mengajak jemaat untuk saling membangun khususnya dalam masa kesukaran. Kolose 3:15-17 mengajak jemaat untuk saling mengajar  dan menegur dengan dasar bahwa mereka dikuasai oleh damai sejahtera dan kasih Yesus Kristus.
             Bukan oleh kebencian atau kecemburuan atau kecemburuan atau niat-niat negatif lainnya. Galatia 6:1-4 mengisayaratkan pentingnya memberikan bimbingan bagi saudara-saudara seiman yang sedang menghadapi “pencobaan dan godaaan” agar mereka bangkit kembali dalam jalan kebenaran. Kita harus bersikap lemah lembut, ramah dan sabar sambil menjaga diri agar tidak ikut terjerumus. Juga disebut perlunya menguji diri agar tidak ikut terjerumus. Juga disebut perlunya menguji diri apakah kita dalam kondisdi yang benar dan teguh iman. Matius 18:15-20 mendesak jemaat untuk mendapatkan kembali saudara yang telah melakukan pelanggaran. Kasusnya harus diperiksa secara teliti, supaya dapat memberikan nasehat. Perlu ada dua atau tiga orang saksi. Kalau sekiranya yang bersangkutan menolak mengakui kesalahannya serta menolak untuk berubah, barulah jemaat menyatakan disiplin. 1 Tesalonika 4:13-18 menegaskan perlunya kita memberikan konseling peneguhan dan penghiburan bagi mereka yang ditimpa dukacita. Harapan mereka kepada Yesus yang akan datang itu perlu dibangkitkan. 2 Tesalonika 3: 11-15 memberi dorongan bagi kita untuk membina saudara seiman yang tidak tertib hidupnya. Mereka ini sibuk dengan dirinya sendiri, menggosip orang-orang lain dan tidak bekerja untuk hidup keluarganya.

Alasan mengapa andanya Koseling dalam Gereja.
             Konseling harus kita jalankan dalam gereja perlu sekali berdasarkan firman Allah. Mengapa demikian? Sebab firman Allah itu tajam bagaikan pedang bermata dua,sanggup memberikan pertimbangan, dorongan dan peneguhan (Ibrani 4:12). Firman Allah itu berguna untuk “memberikan pengajaran”, “menyatakan kesalahan”, “memperbaiki kesalahan”, dan “mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16). Apakah kata firman Tuhan tentang manusia? Manusia itu ciptaan Allah yang begitu berharga, sebagai pembawa gambar dan rupa Allah (imago Dei) (Kejadian 1:26-27). Allah menjadikan manusia dengan dua kodrat — jasmani dan rohani (Kejadian 2:7). Manusia dapat karena “terhembusi oleh nafas Allah .” Manusia mempunyai kebutuhan jasmani seperti: sandang, pangan, udara, kesehatan, atau bebas dari kuman. Akan tetapi, manusia tidak dapat menemukan makna atau arti dari hidup diluar Allah. Pada manusia ada “kekekalan” yang membuatnya harus berjumpa dengan Allah yang kekal (Pengkhotbah 3:11).
            Pada diri manusia ada unsur jiwa (psikhe), pikiranm perasaan (emosi) dan kehendak serta dimensi roh sebagai pusat hidupnya. Kemudian, kata firman Tuhan, manusia sudah berdosa (Roma 3:10, 23). Manusia cenderung berbuat dosa saja dengan tubuh, jiwa dan rohnya. Mengapa demikian? Karena manusia pertama telah jatuh kedalam dosa, Oleh satu orang (Adam) semua orang telah berbuat dosa pula (Kejadian 3:1-4:19; Roma 5:12). Dosa itu buruk akibatnya. Dosa membawa berbagai persoalan bagi kita, berkaitan dengan tubuh jasmani dan rohani. Di bawah ini akan kita bahas secara ringkas aspek-aspke diri kita yang amat perlu memperoleh layanan konseling. 
a)      Tubuh kita membuahkan berbagai sifat dan buah dosa; hawa nafsu daging yang tak mampu kita lawan atau hilangkan (Roma 7:14-25). Tubuh kita ini terus mengalami pemerosotan, mudah terserang penyakit, mudah lelah; mempunyai siklus yang harus kita perhatikan; dan bahkan akan ditelan oleh ketuaan serta kematian. Konseling juga berkaitan dengan aspek tubuh, masalah-masalah kejasmanian. Tubuh perlu dipersembahkan kepada Tuhan agar menjadi senjata kebenaran (Roma 6:14). Tubuh harus dipelihara kekudusannya karena tubuh kita adalah tempat kediaman Roh Kudus (1 Korintus 3:16; 6:19). Kalau Roh Tuhan mengusai tubuh kita, maka ia memampukan kita mengendalaikan diri (Galatia 5:22; 1Korintus 9:27). Betapa banyak orang tidak mampu menguasai tubuhnya atau memeliharanya secara benar.
b)  Akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3: 8-4:8). Pikiran kita memberontak, menyatakan masalah Tuhan tidak masuk akal atau “nonsense”. Pikian tidak mau taat kepada firman Tuhan, melainkan ingin merdeka. Meskipun orang rajin ke gereja, namun tuntutan-tuntutan firman Tuhan dianggap tidak logis, kuno (! Korintus 2:14). Misalnya, firman Tuhan mengehendaki kita memberikan persembahan persepuluhan tetapi pikiran kita menyatakan tidak perlu (Maleakhi 3:10; Amasal 3: 9,10). Firman Tuhan menyatakan bahwa siapa yang percaya dan menerima Yesus dalam hidupnya pasti beroleh hidup kekal datau kedudukan di surga. Tetapi pikiran menyatakan tidak masuk akal (bd. Yohanes 1:12; 3:16; 5:24).
            Sebab itu, konseling terhadap pikiran amat penting agar ia tunduk di bawah firman Tuhan. Pikiran kita harus terus menerus mengalami pembaharuan Roh (Roma 12:2. Pikiran kita harus dikuasai oleh damai sejahtera Allah (Filipi 4:7) Pikiran juga harus dilatih untuk berpikir positif, melihat sisi-sisi yang baik dari segala orang dan peristiwa (Filipi 4:8). Pikiran kita harus dibimbing agar beroleh hikmat sorgawi, yaitu hikmat dari Allah, bukan dari dunia dan hawa nafsu (Yakobus 3:13-18). Banyak orang percaya yang rajin ke geraja hidup dalam cara birpikir sempit, keliru, degatif. Pikiran degatif bisa mempengaruhi perasaan dan kehendak dan bahkan roh. Pikiran negatif  juga bisa mempengaruhi tuguh (fisik ). Karena itu bimbingan yang membangun cara berpikir amat penting  kita lakukan. Jika pikiran kalut dan bingung bahkan ternatas, peneranganlah yang kita butuhkan.
 c) Emosi atau perasaan perlu sekali memperoleh pembaharuan. Emosi yang masih dikuasai oleh dosa cenderung negatif, menyimpan akar pahit, dendam, kemarahan, kecemasan bahkan depresi. Pada emosilah bersarang ketakutan, kecemasan, kekuatiran, dan kemarahan (Efesus 4: 30). Emosi yang tertekan mempengaruhi pikiran, kehendak bahkan tubuh jasmani. Kemarahan yang tersimpan membuat lahirnya penyakit jantung, darah tinggi dan stress serta depresi. Konseling diperlukan untuk mengatasi ini. Emosi kita harus dikuasai oleh damai sejatera Kristus (Yohanes 14:27; Kolose 3:15; Filipi 4:4,7). Kalau orang menerima pengampunan dari Tuhan Yesus, maka Roh Allah akan mengangkat semua beban emosi itu. Seterusnya, Roh Kudus di dalam kita akan memberikan buah — kasih, sukacita, damai sejahtera, kemurahan, kelemahlembutan, kesetiaan, kebaikan dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Itu sebabnya mengapa kita perlu dipenuhi oleh kehadiran Roh Tuhan (Efesus 5:8) Kita perlu dibimbing dan dikendalikan oleh Roh Allah (Galatia 5:16-17, 18,25).
 d) Karena pengaruh dosa, kehendak kita untuk berbuat baik begitu lemah. Terlalu banyak kemauan sehingga sulit untuk membuat prioritas. Kehendak yang lemah ini juga diperbesar oleh didikan di masa lalu. Kurangnya kasih sayang, penerimaan, penghargaan yang kita terima dari orang tua, membuat kita sukar untuk mandiri. Sulit untuk mempunyai keteguhan hati. Padahal, keteguhan hati penting untuk kemajuan hidup. Anak yang memperoleh kasih dan disiplin yang baik dari orang tua akan maju di dalam studi, karier dan kehidupannya. Masalah pemulihan kehendak, pengambilan keputusan perlu kita bicarakan dalam jemaat. Dalam kitab Efesus dikatakan bahwa hidup bijaksana berarti bersedia mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya (Efesus 5:15-17). Kehendaka yang lemah memerlukan dorongan, semangat sebagi upaya membangkitkan rasa percaya diri.
e) Karena dosa, maka roh kita tidak mampu menjangkau kehendak atau keinginan Tuhan. Sekalipun orang rajin je gereja tetapi rohnya belum mendapat pembaharuan. Akibatnya, masalah ketuhan dan masalah emosi dipecahkan secara kedagingan dan rasional. Dalam 1 Korintus 2:14 dikatakan bahwa kalau orang belum mengalami kehadiran Roh Allah, perkara-perkara rohani akan cepat membosankan. Kematian rahani membuat orang tak berdaya menghadapi dosa dan hawa nafsu (Efesus 6:11-13; 1 Yohanes 2:18-27; 4:1-6). Namasnya orang Kristen, rajin ke gereja, tetapi ia masih berpegang teguh keoada kuasa-kuasa kedukunan, tenaga kebatinan dan sejenisnya.
            Nikodemus, seorang ahli Taurat Yahudi yang amat disegani punya kasus seperti ini. Dalam Yohanes 3:1-18 dikemukakan bahwa Nikodemus tak mehamai kalau orang bisa masuk ke dalam kerajaan Sorga. Nikodemus malu menemui Yesus siang hari meskipun ia begitu kagum. Secarasembunyi-sembunyi ia menemui Yesus dan mencoba berdiskusi. Baginya Yesus hanya guru biasa, bukan Tuhan apalagi Anak Allah. Yesus sebaliknya kasihan melihat Nikodemus. Ia menawarkan jalan. Nikodemus harus menerima dan percaya kepada Dia yang diutus Allah (Mesias). Jika percaya kepada Yesus berarti ia dilahirkan kembali oleh Allah melalui pekerjaan Roh-Nya. Karena itu agar rohani cerah, orang harus mengalami kelahiran baru (Yohanes 3:3, 5, 7).
            Sebelum Paulus menerima Yesus ke dalam hidupnya, ia aktif bekerja bagi Allah. Akan tetapi ia menyiksa banyak orang yang mengikut Yesus.  Akan tetapi ia mengira berbuat baik bagi Tuhan. Setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik, Paulus menyerahkan diri kepada Yesus (Kisah 9:1-19). Lalu Roh Allah hadir dalam hidupnya (Efesus 1: 13,14). Roh Allah itu menghidupkan rohnya. Ia menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Roh membantunya memahami rahasia pribadi dan pekerjaan Allah. Paulus menjadi giat bekerja bagi Tuhan. Ia pun rela mati bagi Kristus.
            Jadi, bimbingan rohani amat perlu bagai warga gereja kita. Maksudnya, bimbingan untuk pembaharuan roh! Betapa banyaknya kita menaggapi masalah kerohanian dan kegerejaan secara kedagingan? Solusi terhadap ini, agar kita berkobar-kobar hidup bagi Tuhan, adalah pembaharuan roh. Dimana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan, kebebasan roh, pikiran, emosi, bahkan kesegaran tubuh (2 Korintus 3:17,18; Roma 8: 26-27).
Tehnik-tehnik konseling
            Masalah berikutnya yang perlu kita kembangkan adalah teknik konseling. Bagaimana prinsip praktisnya jikalau kita melinatkan diri dalam pelayanan konseling? Beberapa prinsip saja yang perlu kita berikan disini.Pertama, kita harus kuat di dalam anugerah Tuhan. Mental, emosi dan rohani kita harus mantap di dalam pertumbuhannya. Sebab jika tidak, maka kita tidak punya hikmat, wibawa dan kuasa Tuhan (Efesus 6:10; 2 Timotius 2:2). Kita harus selalu menjaga diri agar tidak menjadi “batu sandungan” bagi orang lain (Galatia 6: 1,4).Kedua, kita harus rela mendengar sebelum berbicara dan mengemukakan nasehat, pertimbagan atau bimbingan. Harus tahu apa masalahnya (Amsal 10:19; 12:18: 15:1-2,4; 16:24). Masalah pribadikah? Masalah keluargakah? Masalah moralkah? Yesus Kristus menerapkan prinsip demikian. Ia banyak mendengar ketika berhadapan dengan Nikodemus (Yohanes 3: 1-21); dengan Wanita Samaria (Yohanes 4:1-44); dengan orang-orang Farisi yang membawa seorang perempuan berdosa kepada-Nya (Yohanes 12:1-11); dengan seorang muda yang kaya (Matius 19:16-26) dan ketika Ia menghadapi konflik diantara para murid (Matius 18:1-5; 20:20-28). Ketiga, berikan jawaban secara relevan sesuai dengan pergumulan dan kebutuhan. Beri pengajaran firman Tuhan kalau ia kekurangan informasi atau penejlasan kebenaran. Artinya, konselor itu adalah guru. Koreksi perasaaan yang negatif melalui dorongan dan pemberian semangat. Konselor sebagai pemberi arah. Mampukan untuk melakukan perkarea-perkara luhur meskipun tampak kecil. Konselor berperan sebagai pemampu, pemberi semangat. Jangan lupa berdoa bersama secara bergantian. Sebab, konselor sebagai juru safaat. Keempat, andalkan peranan Roh Kudus yang adalah “counselor” sejati dari Allah bagi roang percaya (Yohanes 14:25,26; 15:26,27; 16:6-13). Dia “counselor” yang mendapingi, memberikan kecerahan suara hati, memberikan keinsyafan akan dosa dan kejahatan, juga menyatakan kebenaran. Bergantunglah kepada-Nya dalam doa dan kesadaran penuh. Betapa perlunya seorang pembimbing untuk bersandar kepada Roh Tuhan yang mampu memberikan kearifan dalam pikiran, sikap dan perbuatan (Efesus 5:15-18).
Sumber Bahan
Kesimpulan :
            Dengan adanya Problem hidup manusia yang semakin banyak dan kompleks, mereka memerlukan pertolongan dari orang lain untuk menyelesaikan problem itu, kemudian mengembangkan diri untuk hidup yang lebih baik setelah problem itu selesai dan akhirnya mereka dapat menikmati kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Namun problem ini dimulai ketika manusia jatuh kedalam dosa hingga sekarang. Gereja sangat berperan aktif dalam penyelesaian masalah-masalah ini akan tetapi tetap orientasinya ialah Alkitab dan memakai tekhis-tehnis dalam penyelasaiannya .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar