Sumber Buku : Konseling Kristen Yang Efektif ; Dr. Gary R
Collins
LATAR
BELAKANG
Dapat dipastikan bahwa
tidak seorangpun di dunia ini yang bebas dari berbagai pergumulan hidup atau
masalah karena hal itu memang merupakan bagian dari dinamika kehidupan umat
manusia. Namun. Jika disikapi dengan bijak dan tepat, berbagai pergumulan atau
masalah itu sebenanrnya dapat membuat setipa orang terpacu untuk senantiasa
dinamis, bergairah dan tertantang untuk mengatasinya sehingga ia dapat bertahan
dan dapat menyongsong hari esok dengan lebih baik. Dengan adanya Problem hidup
manusia yang semakin banyak dan kompleks, mereka memerlukan pertolongan dari
orang lain untuk menyelesaikan problem itu, kemudian mengembangkan diri untuk
hidup yang lebih baik setelah problem itu selesai dan akhirnya mereka dapat
menikmati kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Namun problem ini dimulai
ketika manusia jatuh kedalam dosa hingga sekarang.
Untuk itulah STT IKSM
menyediakan program studi dalam konsentrasi Pendidikan Agama Kristen (PAK)menyediakan
materi Konseling Kristen yang memperlengkapi para mahasiswa/i untuk menjadi
konselor yang profesioanal dan alkitabiah. Konselor Kristen menunjukkan Kasih
Yesus, ketika ia memperhatikan dan menolong orang lain dalam kesulitannya.
Orang tersebut menceritakan masalahnya kepada konselor di tempat aman, sambil
mencurahkan perasaannya. Konselor mendengarkannya dengan baik, lalu menolongnya
mencari solusi efektif untuk mengatasi masalahnya. Diharapkan orang tersebut
kembali dengan lega. Namun gereja juga sangat berperan dalam konseling untuk
memecahkan masalah-masalah serta kebutuhan jemaat maupun banyak orang yang
membutuhkan. Saya akan membahas konseling dalam gereja akan tetapi konseling
itu dapat dilakukan dimana saja baik di sekolah di kantor dan lain-lain.
TUGAS KONSELING DALAM GEREJA
Istilah “konseling” dapat
diartikan sebagai: perundingan, diskusi, nasehat, pendapat, masalah yang
tangani untuk dicari penyelesaian yang tepat dan tuntas, tujuan-tujuan dan
kebijaksanaan. Tugas konseling di gereja juga sama prinsipnya, yakni sbagai
upaya perundingan, pemberian nasehat, pertimbangan dan kebijaksanaan yang
membawa pembaharuan hidup — iman, pikiran, sikap dan tingkah laku. Konseling
dapat dilakukan untuk membantu mereka yang sedang mengalami permasalahan hidup
(kuratif). Ada masalah keluarga, masalah studi, masalah keuangan, pekerjaan dan
masalah nilai budaya. Bisa pula konseling diberikan bagi mereka yang belum
mendapat masalah berat (preventif). Misalnya, konseling untuk kaum muda sebelum
memasuki pernikahan, atau konseling untuk keluarga-keluarga muda sebelum
dibebani oleh berbagai masalah rumah tangga.
Kedudukan gereja
Gereja mempunyai kedudukan yang begitu istimewa dan mulia di hadapan Tuhan kita
Yesus Kristus. Dia menghendaki gereja hadir dan berkarya di dunia ini, yang
harus berdasar pada pengakuan bahwa Yesus Kristus Mesias, Anak Allah (Matius
16:16,18). Kepada gereja yang berdiri sebagai karya Roh Kudus itu, Dia memberi
mandat untuk “menjadikan semua bangsa muridNya”. Dalam rangka tugas itu,
pemberitaan Injil harus dilaksanakan, peneguhan iman dan pengajaran harus
diupayakan (Matius 28:18-20).
Gereja
adalah umat pilihan Allah oleh iman orang-orang percaya itu sendiri kepada
Yesus Kristus. Yesus memanggil dan menjadikan setiap orang percaya sebagai
“imam-imam” yang mampu berhubungan langsung dengan Allah dan melayani serta
mempermuliakan Dia. Disamping itu, sebagai “imam-imam” Allah, semua orang
percaya taerpanggil untuk saling melayani, membantu sesamanya, agar mengalami
pembaharuan hidup (1 Petrus 2:9,10; Efesus 3:10). Kita semua harus memberi
perhatian dan bantuan terhadap sesama kita, khususnya sebagai umat beriman,
agar mampu tampil sebagai pemenang menghadapi setiap tantangan hidup yang
semakin berat (Galatia 6:2, 10). Kita semua adalah “pengembara” di dalam
dunia. Sebab itu kita harus bertolong-tolongan,saling menopang, saling
mengoreksi, saling menghibur dan memberi dorongan untuk maju dan mengakhiri
perjalanan hidup ini. Hal ini dapat kita lakukan mengingat Roh Allah hadir di
dalam kita (Efesus 1:13, 14; 2:23).
Tugas-tugas gereja
Tugas
gereja banyak dan luas, sebagaimana Allah memberikan rupa-rupa karunia dan
pekerjaan (1 Korintus 12:4-7). Allah sendiri memberikan karunia pekerja dan
pekerjaan seperti: nabi, rasul, penginjil, guru dan gembala jemaat (Efesus 4:
11-13). Mereka bertugas memperlengkapi warga jemaat melalui ibadah, persekutuan
dan kesaksian serta diakonia, agar mengenal dan memuliakan Tuhan. Setiap
pekerjaan dalam gereja harus dikembangkan secara serasi, seimbang dan harmoni
(Roma 12:6-8). Kita lihat pula pentingnya para tua-tua jemaat dan diaken serta
para penatua untuk mendinamiskan hidup iman warga jemaat (1 Timotius 3:1-13); 1
Petrus 5:1-4). Artinya, setiap orang yang punya potensi melayani Tuhan dalam
gereja harus difungsikan agar gereja menjadi dinamis. Pekerjaan kemajuan hidup
beriman warga gereja tidak mungkin hanya dapat diwujudkan oleh satu atau
beberapa orang pekerja (klerus).
Pelayanan
melalui konseling di dalam gereja perlu kita pikirkan dan kembangkan. Mengapa
demikian? Pertama, karena
warga gereja adalah individu dan kelompok yang hidup di dunia yang sudah tentu
penuh dengan tantangan, tekanan, hambatan, penderitaan, kesakitan bahkan
penganiayaan. Manusia dicipatakan Allah dengan dua kodrat (sifat), yaitu kodrat
lahiriah (jasmani) dan rohani (spiritual). Dengan kondrat lahiriahnya semua
manusia terbatas, lemah, tidak kebal terhadap penyakit bahkan terhadap
kematian. Dengan kodrat illahinya, manusia mempunyai kerinduan yang dalam untuk
berhubungan dengan Allah dalam setiap kesempatan dan situasi hudupnya. Artinya,
solusi terhadao persoalan hidupnya tidak bisa di dapat hanya dari sudut
lahiriaih. Manusia tidak bisa kenyang oleh karena roti dan kesuksesan
materialnya; karena keindahan dunia, atau karena kuasa serta kekuatn yang
didapat dari dunia ini (Matius 4:1-11). Gereja harus mengajak warganya untuk
mencari jawaban-jawaban hidup dari petunjuk illahi, yaitu dari firman, kuasa
dan kehadiran (bimbingan) Allah. Kedua,
pentingnya tugas konseling dalam gereja ini juga diperlihatkan oleh beberepa
perikop firman Tuhan. Pertama, 1 Petrus 5:1-4 mengemukakan bahwa
penatua gereja adalah gembala, pengarah iman, pembimbing dan pendorong semangat
orang-orang percaya. Mereka memberi pengarahan iman ditengah-tengah banyaknya
kepalsuan pengajaran. Mereka memberikan bimbingan berkaitan dengan hidup rumah
tangga, dan hidup kerohanian. Mereka dituntut memberikan dorongan berupa
perkataan dan perbuatan yang membangun karena jemaat menghadap tekanan batiniah,
bahkan tekanan yang nyata secara sosial, kultural dan politik.
Sebagai gembala penatua harus memerankan
tugasnya seperti disebutkan oleh Mazmur 23:1-6 yakni: mengenal, memelihara,
memebrikan hiburan bagi warganya. Mereka juga meneladani Yesus Sang Gembala
yang mengenal kebutuhan daoba-domba-Nya, bahkan rela memberikan diri dan
kehidupan-Nya (Yohanes 10:10, 14-18). Kedua, Yakobus 5:14-16
menasehatkan agar penatua rajin mendoakan warganya yang sedang dilanda
kesakitan. Tidak semua penyakit karena kuman. Banyak penyakit terjadi karena
kelemahan emosi, kelelhan pikiran, bahkan karena kehampaan (kekosongan) rohani
(spiritual). Nah, para penatua perlu membangun semangat mereka, melalui
nasehat, dorongan, ajaran yang banar serta melalui doa, yang sungguh-sungguh. Doa
merupakan permohonan kepada Allah agar Ia menyingkapkan apa sebenarnya yang
terejadi dalam didi seseorang yang kita doakan. Lalu Allah sendiri memberikan
jawabnya. Ketiga, Ibrani 10:24-25 mengajak jemaat untuk saling membangun
khususnya dalam masa kesukaran. Kolose 3:15-17 mengajak jemaat untuk saling
mengajar dan menegur dengan dasar bahwa mereka dikuasai oleh damai
sejahtera dan kasih Yesus Kristus.
Bukan oleh kebencian atau kecemburuan atau
kecemburuan atau niat-niat negatif lainnya. Galatia 6:1-4 mengisayaratkan
pentingnya memberikan bimbingan bagi saudara-saudara seiman yang sedang
menghadapi “pencobaan dan godaaan” agar mereka bangkit kembali dalam jalan kebenaran.
Kita harus bersikap lemah lembut, ramah dan sabar sambil menjaga diri agar
tidak ikut terjerumus. Juga disebut perlunya menguji diri agar tidak ikut
terjerumus. Juga disebut perlunya menguji diri apakah kita dalam kondisdi yang
benar dan teguh iman. Matius 18:15-20 mendesak jemaat untuk mendapatkan kembali
saudara yang telah melakukan pelanggaran. Kasusnya harus diperiksa secara
teliti, supaya dapat memberikan nasehat. Perlu ada dua atau tiga orang saksi.
Kalau sekiranya yang bersangkutan menolak mengakui kesalahannya serta menolak
untuk berubah, barulah jemaat menyatakan disiplin. 1 Tesalonika 4:13-18
menegaskan perlunya kita memberikan konseling peneguhan dan penghiburan bagi
mereka yang ditimpa dukacita. Harapan mereka kepada Yesus yang akan datang itu
perlu dibangkitkan. 2 Tesalonika 3: 11-15 memberi dorongan bagi kita untuk
membina saudara seiman yang tidak tertib hidupnya. Mereka ini sibuk dengan
dirinya sendiri, menggosip orang-orang lain dan tidak bekerja untuk hidup
keluarganya.
Alasan mengapa
andanya Koseling dalam Gereja.
Konseling harus kita jalankan dalam gereja
perlu sekali berdasarkan firman Allah. Mengapa demikian? Sebab firman Allah itu
tajam bagaikan pedang bermata dua,sanggup memberikan pertimbangan, dorongan dan
peneguhan (Ibrani 4:12). Firman Allah itu berguna untuk “memberikan
pengajaran”, “menyatakan kesalahan”, “memperbaiki kesalahan”, dan “mendidik
orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16). Apakah kata firman Tuhan tentang
manusia? Manusia itu ciptaan Allah yang begitu berharga, sebagai pembawa gambar
dan rupa Allah (imago Dei) (Kejadian 1:26-27). Allah menjadikan manusia dengan
dua kodrat — jasmani dan rohani (Kejadian 2:7). Manusia dapat karena
“terhembusi oleh nafas Allah .” Manusia mempunyai kebutuhan jasmani seperti:
sandang, pangan, udara, kesehatan, atau bebas dari kuman. Akan tetapi, manusia
tidak dapat menemukan makna atau arti dari hidup diluar Allah. Pada manusia ada
“kekekalan” yang membuatnya harus berjumpa dengan Allah yang kekal (Pengkhotbah
3:11).
Pada
diri manusia ada unsur jiwa (psikhe), pikiranm perasaan (emosi) dan kehendak
serta dimensi roh sebagai pusat hidupnya. Kemudian, kata firman Tuhan, manusia
sudah berdosa (Roma 3:10, 23). Manusia cenderung berbuat dosa saja dengan
tubuh, jiwa dan rohnya. Mengapa demikian? Karena manusia pertama telah jatuh
kedalam dosa, Oleh satu orang (Adam) semua orang telah berbuat dosa pula
(Kejadian 3:1-4:19; Roma 5:12). Dosa itu buruk akibatnya. Dosa membawa berbagai
persoalan bagi kita, berkaitan dengan tubuh jasmani dan rohani. Di bawah ini
akan kita bahas secara ringkas aspek-aspke diri kita yang amat perlu memperoleh
layanan konseling.
a) Tubuh kita membuahkan
berbagai sifat dan buah dosa; hawa nafsu daging yang tak mampu kita lawan atau
hilangkan (Roma 7:14-25). Tubuh kita ini terus mengalami pemerosotan, mudah
terserang penyakit, mudah lelah; mempunyai siklus yang harus kita perhatikan;
dan bahkan akan ditelan oleh ketuaan serta kematian. Konseling juga berkaitan
dengan aspek tubuh, masalah-masalah kejasmanian. Tubuh perlu dipersembahkan
kepada Tuhan agar menjadi senjata kebenaran (Roma 6:14). Tubuh harus dipelihara
kekudusannya karena tubuh kita adalah tempat kediaman Roh Kudus (1 Korintus
3:16; 6:19). Kalau Roh Tuhan mengusai tubuh kita, maka ia memampukan kita
mengendalaikan diri (Galatia 5:22; 1Korintus 9:27). Betapa banyak orang tidak
mampu menguasai tubuhnya atau memeliharanya secara benar.
b) Akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian
3: 8-4:8). Pikiran kita memberontak, menyatakan masalah Tuhan tidak masuk akal
atau “nonsense”. Pikian tidak mau taat kepada firman Tuhan, melainkan ingin
merdeka. Meskipun orang rajin ke gereja, namun tuntutan-tuntutan firman Tuhan
dianggap tidak logis, kuno (! Korintus 2:14). Misalnya, firman Tuhan
mengehendaki kita memberikan persembahan persepuluhan tetapi pikiran kita
menyatakan tidak perlu (Maleakhi 3:10; Amasal 3: 9,10). Firman Tuhan menyatakan
bahwa siapa yang percaya dan menerima Yesus dalam hidupnya pasti beroleh hidup
kekal datau kedudukan di surga. Tetapi pikiran menyatakan tidak masuk akal (bd.
Yohanes 1:12; 3:16; 5:24).
Sebab
itu, konseling terhadap pikiran amat penting agar ia tunduk di bawah firman
Tuhan. Pikiran kita harus terus menerus mengalami pembaharuan Roh (Roma 12:2.
Pikiran kita harus dikuasai oleh damai sejahtera Allah (Filipi 4:7) Pikiran
juga harus dilatih untuk berpikir positif, melihat sisi-sisi yang baik dari
segala orang dan peristiwa (Filipi 4:8). Pikiran kita harus dibimbing agar
beroleh hikmat sorgawi, yaitu hikmat dari Allah, bukan dari dunia dan hawa
nafsu (Yakobus 3:13-18). Banyak orang percaya yang rajin ke geraja hidup dalam
cara birpikir sempit, keliru, degatif. Pikiran degatif bisa mempengaruhi
perasaan dan kehendak dan bahkan roh. Pikiran negatif juga bisa
mempengaruhi tuguh (fisik ). Karena itu bimbingan yang membangun cara berpikir
amat penting kita lakukan. Jika pikiran kalut dan bingung bahkan
ternatas, peneranganlah yang kita butuhkan.
c) Emosi atau perasaan perlu sekali memperoleh
pembaharuan. Emosi yang masih dikuasai oleh dosa cenderung negatif, menyimpan
akar pahit, dendam, kemarahan, kecemasan bahkan depresi. Pada emosilah
bersarang ketakutan, kecemasan, kekuatiran, dan kemarahan (Efesus 4: 30). Emosi
yang tertekan mempengaruhi pikiran, kehendak bahkan tubuh jasmani. Kemarahan
yang tersimpan membuat lahirnya penyakit jantung, darah tinggi dan stress serta
depresi. Konseling diperlukan untuk mengatasi ini. Emosi kita harus
dikuasai oleh damai sejatera Kristus (Yohanes 14:27; Kolose 3:15; Filipi
4:4,7). Kalau orang menerima pengampunan dari Tuhan Yesus, maka Roh Allah akan
mengangkat semua beban emosi itu. Seterusnya, Roh Kudus di dalam kita akan
memberikan buah — kasih, sukacita, damai sejahtera, kemurahan, kelemahlembutan,
kesetiaan, kebaikan dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Itu sebabnya mengapa
kita perlu dipenuhi oleh kehadiran Roh Tuhan (Efesus 5:8) Kita perlu dibimbing
dan dikendalikan oleh Roh Allah (Galatia 5:16-17, 18,25).
d) Karena pengaruh dosa, kehendak kita untuk
berbuat baik begitu lemah. Terlalu banyak kemauan sehingga sulit untuk membuat
prioritas. Kehendak yang lemah ini juga diperbesar oleh didikan di masa lalu.
Kurangnya kasih sayang, penerimaan, penghargaan yang kita terima dari orang
tua, membuat kita sukar untuk mandiri. Sulit untuk mempunyai keteguhan hati.
Padahal, keteguhan hati penting untuk kemajuan hidup. Anak yang memperoleh
kasih dan disiplin yang baik dari orang tua akan maju di dalam studi, karier
dan kehidupannya. Masalah pemulihan kehendak, pengambilan keputusan perlu kita
bicarakan dalam jemaat. Dalam kitab Efesus dikatakan bahwa hidup bijaksana
berarti bersedia mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya (Efesus 5:15-17).
Kehendaka yang lemah memerlukan dorongan, semangat sebagi upaya membangkitkan
rasa percaya diri.
e) Karena dosa, maka roh kita tidak mampu menjangkau
kehendak atau keinginan Tuhan. Sekalipun orang rajin je gereja tetapi rohnya
belum mendapat pembaharuan. Akibatnya, masalah ketuhan dan masalah emosi
dipecahkan secara kedagingan dan rasional. Dalam 1 Korintus 2:14 dikatakan
bahwa kalau orang belum mengalami kehadiran Roh Allah, perkara-perkara rohani
akan cepat membosankan. Kematian rahani membuat orang tak berdaya menghadapi
dosa dan hawa nafsu (Efesus 6:11-13; 1 Yohanes 2:18-27; 4:1-6). Namasnya orang
Kristen, rajin ke gereja, tetapi ia masih berpegang teguh keoada kuasa-kuasa
kedukunan, tenaga kebatinan dan sejenisnya.
Nikodemus,
seorang ahli Taurat Yahudi yang amat disegani punya kasus seperti ini. Dalam
Yohanes 3:1-18 dikemukakan bahwa Nikodemus tak mehamai kalau orang bisa masuk
ke dalam kerajaan Sorga. Nikodemus malu menemui Yesus siang hari meskipun ia
begitu kagum. Secarasembunyi-sembunyi ia menemui Yesus dan mencoba berdiskusi.
Baginya Yesus hanya guru biasa, bukan Tuhan apalagi Anak Allah. Yesus
sebaliknya kasihan melihat Nikodemus. Ia menawarkan jalan. Nikodemus harus
menerima dan percaya kepada Dia yang diutus Allah (Mesias). Jika percaya kepada
Yesus berarti ia dilahirkan kembali oleh Allah melalui pekerjaan Roh-Nya.
Karena itu agar rohani cerah, orang harus mengalami kelahiran baru (Yohanes
3:3, 5, 7).
Sebelum
Paulus menerima Yesus ke dalam hidupnya, ia aktif bekerja bagi Allah. Akan
tetapi ia menyiksa banyak orang yang mengikut Yesus. Akan tetapi ia
mengira berbuat baik bagi Tuhan. Setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik,
Paulus menyerahkan diri kepada Yesus (Kisah 9:1-19). Lalu Roh Allah hadir dalam
hidupnya (Efesus 1: 13,14). Roh Allah itu menghidupkan rohnya. Ia menjadi
ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Roh membantunya memahami rahasia pribadi dan
pekerjaan Allah. Paulus menjadi giat bekerja bagi Tuhan. Ia pun rela mati bagi
Kristus.
Jadi,
bimbingan rohani amat perlu bagai warga gereja kita. Maksudnya, bimbingan untuk
pembaharuan roh! Betapa banyaknya kita menaggapi masalah kerohanian dan
kegerejaan secara kedagingan? Solusi terhadap ini, agar kita berkobar-kobar
hidup bagi Tuhan, adalah pembaharuan roh. Dimana ada Roh Allah di situ ada
kemerdekaan, kebebasan roh, pikiran, emosi, bahkan kesegaran tubuh (2 Korintus
3:17,18; Roma 8: 26-27).
Tehnik-tehnik
konseling
Masalah berikutnya yang perlu kita
kembangkan adalah teknik konseling. Bagaimana prinsip praktisnya jikalau kita
melinatkan diri dalam pelayanan konseling? Beberapa prinsip saja yang perlu
kita berikan disini.Pertama, kita harus kuat di dalam anugerah Tuhan.
Mental, emosi dan rohani kita harus mantap di dalam pertumbuhannya. Sebab jika
tidak, maka kita tidak punya hikmat, wibawa dan kuasa Tuhan (Efesus 6:10; 2
Timotius 2:2). Kita harus selalu menjaga diri agar tidak menjadi “batu
sandungan” bagi orang lain (Galatia 6: 1,4).Kedua, kita harus rela
mendengar sebelum berbicara dan mengemukakan nasehat, pertimbagan atau
bimbingan. Harus tahu apa masalahnya (Amsal 10:19; 12:18: 15:1-2,4; 16:24).
Masalah pribadikah? Masalah keluargakah? Masalah moralkah? Yesus Kristus menerapkan
prinsip demikian. Ia banyak mendengar ketika berhadapan dengan Nikodemus
(Yohanes 3: 1-21); dengan Wanita Samaria (Yohanes 4:1-44); dengan orang-orang
Farisi yang membawa seorang perempuan berdosa kepada-Nya (Yohanes 12:1-11);
dengan seorang muda yang kaya (Matius 19:16-26) dan ketika Ia menghadapi
konflik diantara para murid (Matius 18:1-5; 20:20-28). Ketiga, berikan jawaban secara relevan sesuai dengan
pergumulan dan kebutuhan. Beri pengajaran firman Tuhan kalau ia kekurangan
informasi atau penejlasan kebenaran. Artinya, konselor itu adalah guru. Koreksi
perasaaan yang negatif melalui dorongan dan pemberian semangat. Konselor
sebagai pemberi arah. Mampukan untuk melakukan perkarea-perkara luhur meskipun
tampak kecil. Konselor berperan sebagai pemampu, pemberi semangat. Jangan lupa
berdoa bersama secara bergantian. Sebab, konselor sebagai juru safaat. Keempat, andalkan peranan Roh
Kudus yang adalah “counselor” sejati dari Allah bagi roang percaya (Yohanes
14:25,26; 15:26,27; 16:6-13). Dia “counselor” yang mendapingi, memberikan
kecerahan suara hati, memberikan keinsyafan akan dosa dan kejahatan, juga
menyatakan kebenaran. Bergantunglah kepada-Nya dalam doa dan kesadaran penuh.
Betapa perlunya seorang pembimbing untuk bersandar kepada Roh Tuhan yang mampu
memberikan kearifan dalam pikiran, sikap dan perbuatan (Efesus 5:15-18).
|
Sumber Bahan
|
Kesimpulan :
Dengan
adanya Problem hidup manusia yang semakin banyak dan kompleks, mereka
memerlukan pertolongan dari orang lain untuk menyelesaikan problem itu,
kemudian mengembangkan diri untuk hidup yang lebih baik setelah problem itu
selesai dan akhirnya mereka dapat menikmati kasih Allah dalam kehidupan
sehari-hari. Namun problem ini dimulai ketika manusia jatuh kedalam dosa hingga
sekarang. Gereja sangat berperan aktif dalam penyelesaian masalah-masalah ini akan
tetapi tetap orientasinya ialah Alkitab dan memakai tekhis-tehnis dalam penyelasaiannya
.